|
Peringatan HUT ke 61 TNI-AU
Posted on: 2007-04-10 16:18:26 Dua jenis pesawat tempur TNI Angkatan Udara yakni Hawk 100/200 dan F-5 Tiger menyemarakkan peringatan HUT ke-61 TNI AU dengan melakukan demo udara di atas Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Senin (9/4). Selain 10 buah pesawat tempur yang akan meraung di angkasa Jakarta, juga 100 peterjun melakukan free fall. Demo udara fly pass ini ditampilkan oleh para Perwira penerbang Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, dan Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi sebagai wujud rasa syukur atas kesetiaan dan pengabdian TNI Angkatan Udara dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia selama 61 tahun. Selama 61 tahun mengabdi bagi bangsa dan negara, TNI Angkatan Udara sudah memberi banyak arti bagi perjuangan bangsa. TNI Angkatan Udara ikut aktif dalam operasi-operasi militer, pengamanan wilayah perbatasan, pulau-pulau terluar, serta operasi kemanusiaan seperti membantu korban bencana alam. Hal ini merupakan wujud nyata dari peran serta TNI Angkatan Udara yang akan senantiasa diberikan demi bangsa dan negara. Di usianya yang ke-61, TNI Angkatan Udara semakin matang dan semakin berupaya untuk meningkatkan kualitas pengabdian. Menjadi Angkatan Udara yang profesional adalah tujuan dari para pengawal dirgantara Indonesia. Dengan kerjasama dan dukungan penuh dari semua insan Angkatan Udara, niscaya tiada halangan yang menghadang langkah Angkatan Udara di kancah perjuangan nasional. Lima buah pesawat Hawk 100/200 gabungan dari Skadron Udara 1 Supadio dan Skadron Udara 12 Pekanbaru, terbang dengan kecepatan 250 Km/jam. Pesawat ini akan melintas dalam formasi Arrow Head, dengan konfigurasi roda pendaratan diturunkan. Menyusul di belakang Hawk, formasi lima buah pesawat F-5 Tiger juga dengan formasi Arro Head, sinar lampu pendaratan yang memancar melambangkan semangat juang para Ksatria Angkasa ini tidak akan pernah padam. Pesawat akan melintas pada ketinggian 200 meter di atas permukaan tanah pada kecepatan 250 Km/jam. Setelah melintas diatas podium, formasi pesawat akan membelok ke arah kiri dan selanjutnya akan kembali melintas di hadapan podium dari arah kanan. Pesawat Hawk 100/200 berasal dari Skadron Udara 1 Lanud Pekanbaru. Kedua jenis pesawat tempur ini melaksanakan tugas pertahanan udara terbatas dan operasi serangan udara taktis. Hawk 100/200 merupakan jenis pesawat tempur ringan yang memiliki radius tempur hingga 1.000 Km dalam melaksanakan patroli udara bersenjata. Selain itu kedua jenis pesawat Hawk ini mampu mengusung bom seberat 2.500 Kg serta dua buah peluru kendali dari udara ke udara AIM-9 Side Winder. Jenis pesawat ini juga merupakan satu-satunya jenis pesawat tempur TNI AU yang mampu melaksanakan air to air refuelling sebagai aplikasi dari kekuatan pengganda yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Dengan kemampuan ini, TNI Angkatan Udara memiliki kekuatan lebih dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara dari gangguan pihak asing. Pesawat F-5 Tiger berasal dari Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi yang melaksanakan tugas pokok pertahanan udara, lawan udara ofensif, dan serangan udara strategis. F-5 telah memperkuat pertahanan udara nasional sejak 1980 dan terlibat beberapa operasi diantaranya operasi perbatasan , pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), dan operasi khusus antara lain turut dalam pengamanan KTT ASEAN di Bandung serta pengamanan Ibukota. Kesiapan pesawat Tempur F-5 saat ini telah meningkat berkat dukungan penuh pemerintah dan rakyat Indonesia. Pada HUT ke-61 TNI Angkatan Udara, 9 April 2007 ini penerjun free fall dilaksanakan oleh 100 penerjun dengan menggunakan pesawat angkut berat (Heavy Lift Military Aircraft), yaitu dua pesawat C-130 Hercules Skadron Udara 31 dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Setelah lepas landas dari Pangkalan TNI Angkatanan Udara Husein Sastranegara, Bandung, dua pesawat Hercules terbang dalam bentuk formasi. Formasi dua pesawat C-130 Hercules ini menggunakan call sign “Rajawali Flight”. Dengan profil penerbangan High-High-High, kedua pesawat Hercules bergerak bersama menuju Dropping Zone (DZ) dengan jarak separasi 0.5 DME antar-pesawat. Bertindak sebagai Flight Leader “Rajawali Flight” adalah pesawat Hercules dengan tail number A-1326, dengan Captain Pilot Mayor Pnb Adrian Damanik yang merupakan alumnus Akademi Angkatan Udara tahun 1995. Sedangkan pesawat kedua, A-1321 diawaki oleh Captain Pilot Mayor Pnb Firman Wirayuda yang juga alumnus Akademi TNI Angkatan Udara tahun 1995. Diawali dengan slow down, penerjunan dilaksanakan pada ketinggian 8.000 feet atau 2.438 meter dari permukaan air laut dan melaju dengan kecepatan 125-130 knots. Seluruh proses penerjunan dilaksanakan dalam satu sortie. Tiap pesawat membawa 50 penerjun. Metoda yang digunakan saat meloncat dari pesawat adalah Mass Jump, dimana seluruh penerjun meloncat keluar dari pesawat secara bersama-sama. Penerjun-penerjun ini terdiri dari Personel Korps Pasukan Khas sebanyak 70 orang, tiga Personel Wanita Udara (Wara), dan peterjun dari Kopassus, Kostrad, Brimob dan Gegana Polri, Marinir, dan penerjun dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Beberapa penerjun membawa giant flag (bendera raksasa) yang diantaranya merupakan lambang-lambang Komando Utama (Kotama) dalam jajaran TNI Angkatan Udara, antara lain Akademi TNI Angkatan Udara, Koopsau 1, Koopsau 2, Kodik AU, Korps Pasukan Khas, Seskau, dan Koharmatau. Selain itu, ada juga bendera FASI, Swa Bhuana Paksa dan Sang Saka Merah Putih. Berbeda dengan penerjun yang lain, khusus untuk pembawa Giant Flag melaksanakan opening parachute pada ketinggian 7.000 feet atau 2.135 meter dari permukaan air laut. Selain itu diperlukan kemampuan khusus dalam pembawaan giant flag ini , mengingat hal tersebut sangat berpengaruh dalam kontrol dan pengendalian parasut. |